Senin, 31 Maret 2014

Tempat Paling Romantis

Sahabat, kamu tau, nggak, tempat yang paling romantis di muka bumi ini?
 
     Bukan Paris yang memiliki Eiffel. Bukan Jepang di Musim Semi yang menumbuhkan Bunga Sakura yang cantik. Bukan Rajaampat dengan pesona lautnya yang indah. Bukan Gunung Bromo yang terkenal dengan Sunrisenya.
 
     Bahkan aku tidak menikmati tenggelamnya matahari di pantai berpasir putih yang sedang kulihat kini.
 
     Aku lebih menyukai jalan tanpa ujung di kota tempat tingga; kita. Menurutku, setiap batu yang kulewati adalah yang romantis. Duduk di atas motor merahmu, mengenakan helmku, melakukan perjalanan kita, berpetualang. Jalan sana, jalan sini. Makan sana, makan sini. Ketawa sana, ketawa sini. Aku dan kamu adalah petualang kota. Petualang Kota!
 
     Sampai akhirnya aku dan kamu menikmati indahnya malam di kota ini di atas gedung yang tinggi itu.

     Kamu bukan siapa-siapaku. Aku percaya itu, kamu percaya itu. Dan di antara kita berdua tidak ada yang menyesali keadaan itu. Kita cuma dua sahabat.

     Tapi kamu tau, Sahabat? Setiap tempat yang kupijak bersamamu selalu menjadi hal paling romantis untukku.




Bayangin coba kalo ada sahabat kayak gitu.........
31-3-2014  20.22

Motivasi

     Postingan kali ini isinya tentang yang namanya motivasi. Agak berat ya kalo udah denger kata ‘motivasi’? Pasti yang muncul di pikiranmu pertama kali adalah Mario Teguh, Si Bapak berkepala licin dengan “Super Sekali”nya yang khas.

      Tapi kali ini aku nggak mau cerita itu. Aku bahkan nggak kenal sama Pak Mario ini.
 
     Jadi, barusan, barusan aja aku termotivasi untuk nulis lagi. Aku emang suka nulis, tapi kadang-kadang moodku mengalahkan segalanya. Malas. Itu penyakitnya. Nah suatu hari aku buka blog seorang wanita cantik berusia 21 tahun. Isinya sederhana. Dia cuma sekedar cerita tentang hari-harinya yang biasa. Tapi kemasan postingannya luar biasa. Semuanya diceritakan dengan kekhasan bahasanya. Aku bukan pengkritisi tulisan, aku cuma mengungkapkan apa yang aku dapat dari blognya.
 
     Nah karena aku nggak pernah bisa kalo nggak mengungkapkan pikiranku tentang seseorang ke orangnya langsung, ku-sms lah dia. “Naksir banget sama blogmu mbaaakk”. Teruslah kita smsan yang topik bahasannya tentang tulis-menulis. Di akhir-akhir dia bilang gini: “Gimana kalo kita adu postingan di blog, biar nggak males nulis?” Aku meng-iyakan dengan syarat, yang paling banyak nge-post traktir Boyki se-renteng. Fyi aja, Boyki itu mi kering berbumbu. Enak banget, satu bungkus harganya LIMA RATUS RUPIAH. Udah enak, murah pula. Ah, si mbak ini nambahin satu syarat lagi: SE-RENTENG ISI DUA. Kan cuma seribu itu mbaaaakk-___-
 
     Tapi jangan salah kaprah, ya. Aku termotivasi bukan atas nama Boyki. Aku mau terima tantangan itu biar aku nggak males nulis lagi. Biar hobiku dari kecil ini terus berkembang, nggak kalah sama yang namanya mood.
 
    Sekarang semua paham, kan? Motivasi itu datangnya dari mana aja. Asal kamu terbuka untuk dimotivasi, semua bisa jadi motivator. Motivasi itu bukan sekedar omongan, tapi perbuatan.


-    Klik di sini kalo penasaran sama blognya si mbak cantik itu.
-    Mbak cantik, kamu juga harus nulis tentangku di blogmu ya!
-    Plis aku harus dapet kompensasi dari perusahaan yang memproduksi Boyki. Boyki segudang, plis.


31-3-2014  20.04

Kamis, 27 Maret 2014

Layang-Layang

Persis kayak layang-layang. Dibiarkannya ia terbang, namun masih terikat. Terkontrol. Jangan sampai layang-layang itu beradu dengan benda lain  agar tidak putus talinya. Agar layang-layang itu tidak lepas kontrol, sampai akhirnya jatuh ke tempat yang tidak seharusnya.

Aku baru sadar ternyata layang-layang bukan hanya sebuah permainan yang seru. Lebih dari itu, layang-layang mempunyai nilai filosofis tersendiri. Aku sebenarnya udah pernah tau mengenai filosofi ini, tapi baru benar-benar merasa bahwa filosofi ini benar ya baru-baru ini.
   
 Baru-baru ini, semenjak aku lepas dari rumah. Merantau, tepat sekali. Akulah layang-layang itu.
 
Bebas. Dunia perantauan sangatlah bebas. Jauh dari pengawasan menjadi hal yang sangat istimewa. Mau ini, mau itu, terserah. Pernyataan bahwa hidup adalah pilihan tepat sekali menggambarkan kejadian demi kejadian di sini. Menjadi diri sendiri dengan keputusan sendiri adalah prinsip yang harus dipegang. Karena bisa saja karena saking bebasnya si perantau terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan. Namun hal yang harus selalu diingat adalah: Bagaimana jika nanti aku pulang ke kampung halaman? Kalau aku tidak baik, mau dikata apa aku? Jauh-jauh merantau bukannya makin baik malah makin buruk. Dan yang lainnya yang bisa membentengi diri sendiri akan hal-hal yang buruk.
 
Kebebasan di sini kadang-kadang adalah hal yang sangat diinginkan bagi remaja-remaja yang nggak suka dikekang. Termasuk aku. Tapi jika diibaratkan seperti layang-layang, ketika aku meninggi di atas awan perasaan ingin jatuh selalu menghantui. Ketakutan seperti itu yang hanya dapat dihilangkan ketika dekat dengan tempat asal. Sedangkan tempat asal berada jauuuuhh di bawah, dan kamu harus benar-benar menjaga ketakutan itu agar tidak muncul dan terus menjalankan kehidupan seperti biasa.
 
Kapan pulang? Entah kapan, hal ini seakan tidak ada jawabannya. Namun yang pasti, sang pengontrol dengan layang-layangnya harus berada dalam satu pegangan yang sama. Nggak mungkin sang pengontrol tega memutus pegangan itu sebelum sang layang-layang ada di tangannya.
 
Aku adalah layang-layang. Aku kini berada di atas awan. Lokasi yang sangat jauh dari tempat asalku. Lokasi yang jauh dari pengontrolku. Namun aku selalu yakin, pengontrolku nggak akan memutus taliku sebelum aku berada di tangannya.

Kamis, 20 Maret 2014

Sebatang Pensil Hijau Tua (iseng banget nulis beginian, udah kayak cerita ftv hahaha)

Lelaki itu bernama Ariel. Ariel Soewarno. Sesosok remaja pria biasa. Dulu Ariel memiliki hobi melukis. Lukisan Ariel menjadi kebanggaan keluarga. Namun sejak SMA ia sudah tak pernah lagi melukis. Hobi semasa kecilnya itu telah terganti oleh pikiran-pikiran tentang akademik sekolahnya. Ya, Ariel memiliki segudang prestasi semasa SMA.
 

Belakangan Ariel terlihat sering memandangi sebuah pensil berwarna hijau tua. Padahal pensil itu banyak dijual di toko-toko alat tulis. Kadang-kadang ia mengamati pensil itu sambil menggumam. Entah apa yang ada di pikiran Ariel belakangan ini.
 

Ariel mulai merasa jika ia terus menerus memandangi pensil itu tampaknya sia-sia. Malam itu Ariel menggoreskan sesuatu di dinding kamarnya. Ia mulai menggambar sesosok wanita tanpa wajah. Mungkin ini adalah awal dari bangkitnya kembali hobi Ariel yang dulu pernah hilang. Namun tiba-tiba ia menggumam. Aku merindukan kamu, Nona Manis. 

Lalu ia goreskan di sebelah gambarnya : Nona Manis, Siapa Namamu?






entah bakalan ada lanjutannya apa enggak. pengennya sih dilanjutin, kali aja dikontrak jadi cerita di ftv gitu hahaha

-Aisharya-

Rabu, 19 Maret 2014

Sekian

Iseng puitis. Bikinnya udah lama, ceritanya kado ulang tahun untuk papa :)

Sekian langkah kakiku berjalan menjauh
Sekian batu telah kupijak
Sekian kali kutoleh lagi
Sekian pikiran kulayangkan kembali

Namun kuingat sekian tahun lalu, 
yang kudengar dari ceritamu
Sekian tetes cucuran keringatmu
Sekian tetes hujan turun menggebu
Membasahi jiwa, raga, dan sekian perjalananmu

Aku yang memiliki sekian ragu,
sekian malu,
dan sekian perasaan merindu
Ingin rasanya sekian detik saja bernaung lagi denganmu

Namun kuhapus ragu dengan sekian kekuatanku
Untuk ciptakan senyum di bibirmu
Tak hanya sekian, tapi selamanya


Selamat Ulang Tahun ke 49, Papa!!

26 Februari 2014

-Aisharya

Selasa, 18 Februari 2014

Memori Sepulang Sekolah

hey hey
are you ready to play
its time to come and play with the tweenies
hey hey
what do you say
come along and play with the tweenies
you sing with us
play games with us
you can run about a jump and SHOUT!
dance with us take a chance with us
its ok what do you say everyday COME AND PLAY!

Masih ingat lirik lagu di atas nggak? Lagu itu sering kita dengar di tahun 1999-2000 pada sekitar pukul 10.30 WIB di suatu stasiun TV swasta Indonesia. Ya, itu adalah theme song dari Tweenies.
Aduh, jangan lupa dong sama Tweenies. Tweenies diwujudkan dengan boneka berbentuk orang yang berjumlah 4. 2 laki-laki dan 2 perempuan.

Si ungu berambut botak namanya Milo. Milo ini berisik banget dan sering berantem sama Bella.

Si krem berambut jabrik bernama Jake. Paling muda dan paling kekanak-kanakan.

Si biru berambut kuning namanya Bella. Bossy banget si Bella ini karena dia merasa paling besar dan paling tua.

Si kuning dengan rambut coklat dikepang banyak namanya Fizz. Fizz ini feminin banget. Mainannya boneka.

Mereka diasuh oleh 2 orang dewasa bernama Max dan Judy. Mereka memiliki anjing bernama Doodles yang selalu bermain bersama mereka setiap hari.

        
Tweenies   
Seperti kisah anak-anak biasanya, Tweenies selalu ceria, bernyanyi dan menari. Kadang mereka memiliki konflik yang selalu ada amanah di baliknya.

Sebelum Tweenies dimulai, pasti kalian tau dong acara sebelumnya? Sepulang sekolah pasti kalian nonton deh.
Empat boneka lucu. Yang ini benar-benar boneka dengan wujud sama dan warna yang berbeda. Mereka tinggal di daerah perbukitan yang banyak bunga dan kelincinya. Mataharinya adalah anak bayi. Mereka tinggal di sebuah kubah yang menurutku canggih banget. Puding dengan mangkuk yang bersatu dengan sedotannya sering sekali boneka ini konsumsi. Selain itu ada cookies yang kalo mereka mau makan cookiesnya terlempar sendiri.

Udah ingat? Ya, Teletubbies!!

Teletubbies
Si Ungu dengan antena Segitiga di atasnya namanya Tinky Winky. Barang kesayangannya adalah tas tangan berwarna merah.

Si Hijau dengan antena lurus di atasnya namanya Dipsy. Barang kesayangannya adalahTopi berwarna hitam putih.

Si Kuning dengan antena spiral di atasnya namanya Lala. Barang kesayangannya adalah bola besar berwarna orens.

Si Merah dengan antena lingkaran di atasnya namanya Poo. Hobi banget main skuter.

Teletubbies dimulai dengan kalimat: "Di suatu bukit nan jauh, Teletubbies bermain-main"

dan jika Teletubbies akan berakhir akan ada kalimat:  "Saatnya Tubbie berpisah! Saatnya Tubbie berpisah"

Teletubbies khas dengan kalimat "Berpelukaann". Pertanda banget kan kalo persahabatan mereka sangatlah erat? hehehe

Aisharya-