Jumat, 18 April 2014

Kota Bekasi (lagi)

Ingat postingan mengenai ini?

Tadi papa nelpon, katanya mau comment kok nggak bisa. Ternyata papa belum punya account gmail buat komen-komen tulisanku. hahaha akhirnya beliau nelpon dan bilang:

Bekasi itu dulu terkenal, lho, mbak. Kan ada puisinya Chairil Anwar yang Karawang Bekasi.

Terus aku ber a-o ria, aku juga masih nggak paham kenapa kemarin nggak kepikiran itu sama sekali. Nah postingan kali ini berisi puisinya Chairil Anwar yang Karawang Bekasi.

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
 
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)

Jumat, 11 April 2014

Dewasa

Masih jam 5 pagi, dan aku udah nggak tahan buat ngangkat judul ini di blog. Padahal tugas review jurnalku belum dikerjain sama sekali, sedangkan Senin pagi sudah harus dikumpulkan. Pemalas? Oh, jelas tidak. #beladirisendiri haha
 
Jadi gini, entah aku yang lebay apa gimana, tapi di masa perkuliahan ini tuh orang-orang bermasalah banget sama status dirinya yang masih jomblo, atau baru jomblo, atau ngakunya single tapi tetep aja jomblo. Seakan-akan takut banget selepas kuliah nggak dapat pasangan hidup. Aku juga sih, tapi aku biasa aja sama status ini, toh jodoh juga pasti datang di waktu yang tepat #cieeeeehhhh

Di antara sekian wanita yang merasa dirinya jomblo, pasti dari  mereka ada yang menetapkan kriteria pria idaman. Satu yang pasti terucap kalau ditanya kriteria adalah dewasa. Ya, siapa juga yang nggak mau punya pasangan yang dewasa, yang bisa membimbing dirinya di dunia dan di akhirat. #ciehlagi
 
Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, apa sih makna dewasa itu?
 
Apakah usia menjadi jaminan dia sudah dewasa?
 
Menurutku, 
  • Dewasa itu nggak bisa dilihat dari fisik.
  • Dewasa itu berkaitan banget sama pemikiran.
  • Dewasa itu berkaitan banget sama kebiasaan.
  • Dewasa itu berprinsip.
  • Dewasa itu yang bisa menjadikan kewajibannya menjadi kebiasaan. #yginikeren

Jadi, dewasa itu nggak semata-mata dilihat dari umur, terus omongan yang sok-sok bijak, enggak sama sekali. Nggak semata-mata yang umurnya sudah 22 itu yang dewasa dibanding umur 19. Ini dewasa, bukan tua. Tolong bedakan. Walaupun memang bisa jadi karena pengalaman hidupnya yang sudah lebih banyak, tapi menurutku pengamatan kedewasaan itu harus dilakukan lebih. Kalau mau melihat seorang itu dewasa atau enggak, nggak bisa dilihat sehari-dua hari. Pengamatan yang lama aja membutuhkan kepekaan tingkat dewa.
 
Tapi yang perlu diingat: ini hanya pemikiran dan benar-benar murni pikiranku aja.
 
Lagi, yang dewasa itu belum tentu sempurna.  Jadi, jangan menuntut kedewasaan seseorang dengan kesempurnaan.
 
Saya pun masih belajar untuk bisa lebih dewasa.
 
#inasedisisokbijak
#inasbelumdewasa

12-04-2014 05.37 Aisharya

Minggu, 06 April 2014

Kota Bekasi

     Malam hampir menjelang. Kumainkan kursor di laptopku. Entah apa yang kulakukan. Termenung melihat twitter di layar. Tidak ada apa-apa. Kulahap sepotong roti bakar di sampingku, pandanganku kosong. Entah apa yang kupikirkan.
 
     Tweet demi tweet bermunculan. Aku nggak ngerti, apa perasaanku yang lagi sensitif, atau apa, namun kurasa banyak sekali tweet bertemakan ‘Bekasi’ atau ‘Pulang’ atau yang lebih parah ‘Pulang ke Bekasi’, apalah itu.
 
     Ya, Bekasi. Bekasi hanyalah sebuah kota di pinggiran Ibu Kota Negara, di pinggiran Jakarta. Kalau ditanya di Bekasi ada apa, jawabanku nggak banyak. Di Bekasi cuma ada rumahku, sekolahku, dan kehidupanku. Mall di mana-mana. Nggak kayak Surabaya yang minimal masih punya beberapa tempat sejarah, apalagi kayak Malang yang wisatanya di mana-mana. Ya, inilah Bekasi. Cuma sebuah kota yang lebih banyak ikut-ikutnya daripada membangun jati dirinya.

Ya, macet. Ya, panas. Ya, jalanannya jelek. Ya, nggak ada tempat hiburan.

Ya, ya, ya, ya!!!!

     Aku menjelek-jelekkan Bekasi? Ya terserah kamu aja mau bilang apa. Aku cuma mengungkapkan menurutku aja, kok. Toh bagaimanapun Bekasi, aku tetap rindu sama Bekasi. 2002-2013. Terserah juga deh mau bilang itu lama atau sebentar. Aku tetap kangen Bekasi beserta isi-isinya
 
     Percaya atau enggak, aku baru tau sejarahnya Bekasi ya pas mau nulis postingan ini. Jadi ternyata, dulu tuh Bekasi adalah ibukota Kerajaan Tarumanegara dengan sebutan Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri. Di Bekasi lah tempat asal Maharaja Tarusbawa, pendiri Kerajaan Sunda. Waktu jaman kolonial Belanda, banyak orang keturunan Cina tinggal di sini. Hm, Bekasi dulu merupakan salah satu kantor dari Kabupaten Meester Cornelis, atau Jatinegara. Tahun 1950 namanya diubah menjadi Kabupaten Bekasi. Tahun 1982 jadi kota administratif Bekasi. Tahun 1996 namanya jadi Kotamadya Bekasi. (Sumber: Wikipedia)
 
     Lumayan, lah, kangen-kangen jadi nambah pengetahuan.hehehe Nah, apakah menurut kalian kangenku sudah hilang? Belum, sampai pada akhirnya aku sendiri yang menginjakkan kaki di Kota Bekasi.

Sampai bertemu, Kota Bekasi.





06-04-2013  18.24

Kamis, 03 April 2014

Fenomena Alay

Selfie dengan kamera tepat di atas kepala, pipi digembungkan, bibir dimanyunkan, telunjuk diletakkan di depan bibir. Cekrekkkk...... Lalu hasil foto seperti ini menjamur di sosial media.

Lalu kamu cuma bisa senyum-senyum.

Cengar-cengir.

Iya, kan? Karena kamu teringat masa lalumu.

Kuakui, aku juga pernah menjadi alayers seperti itu. Kusadari sekarang, bahwa fenomena alay adalah proses pendewasaan diri. Sepakat, teman-teman? Karena sebagian besar pelaku alay adalah remaja yang baru masuk SMP.

Ya, walaupun aku nggak tau sih SMP jaman sekarang itu kayak SMP jaman dulu atau enggak. Karena di setiap masa dan setiap daerah kasusnya berbeda. Anak yang usianya udah 17 tahun ke atas aja masih ada, kok. Semua kembali lagi ke lingkungannya.

Menurutku, pencerdasan tentang kata dan kalimat baku juga penting kayaknya. Biar minimal kalau sms, walaupun disingkat tapi masih bisa dipahami. Biar kalau ada tugas karya tulis nggak bingung lagi cara nulis yang benar itu kayak gimana. Minimal dapat dipahami.
Padahal tulisan-tulisanku di blog ngaco semua, nggak berdasarkan kaidah yang ditetapkan. Ah, bodo amat, yang penting masih bisa dipahami.

Jadi latar belakang aku mengangkat tema ini buat di-post di blog adalah karya tulisku di facebook pada sekitar tahun 2008-2009. Jaman SMP, jaman-jamannya peralihan dari friendster ke facebook. Andai aku buka friendster, pasti aku ngakak nggak ketulungan.wkwkw

Setelah menemukan puisi yang dalem banget yang udah ku-post sebelum ini, aku menemukan note-noteku yang lain. Beberapa berisi puisi karya anak jaman SMP (padahal aku sendiri yang buat), beberapa kutipan syair dari penyair terkenal, beberapa sisanya adalah note curhat.

Iya curhat.

Tentang apa aja.

Okelah kalau tulisannya oke. Okelah kalau makna yang terkandung di dalamnya keren. Ini enggak. Sama sekali.
Kalau penasaran buka link ini aja. Aku nggak kuat ngetiknya. :")

Well, sebenernya ketika aku nulis note-note tersebut saat itu aku nggak kepikiran apa-apa. Yang penting aku bisa memuaskan hasratku buat nulis. Saat itu aku menilai diriku tidak alay sama sekali. Bahkan aku pernah jauh lebih alay lagi sekitar tahun 2007/2008. Saat jamannya friendster. Saat tulisan masih sEpErTi iNi. dan menurutku saat itu, itu KEREN.

Aku bahkan nggak tau, mungkin beberapa tahun lagi ketika aku membaca postingan kali ini aku men-cap diriku alay saat ini.

Jadi alay itu apa? Tafsirkan saja sendiri. Aku bahkan nggak tau aku alay atau enggak. Aku membuka aibku sendiri di sini. Hm, menurutku ini bukan aib, ding, ini adalah bagian dari masa laluku. Menurutku, semua itu indah pada saat itu.

Aku pun baru sadar, kalau tulisan ini ternyata sangat random. Mengapa aku harus mengangkat tema alay pada postingan kali ini, dan menceritakan masa laluku? :""D aku juga nggak ngerti.

KAMI TAHU - sebuah puisi

Jadi ceritanya malam ini aku stalking diriku sendiri di facebook. Aku menemukan sesuatu yang membuat memoriku kembali, tapi tidak usang sama sekali. Sebuah puisi yang menceritakan tentang rasa kesal dan kecewa. Dulu curhat, tapi aku nggak tau kenapa sebegitunya ya waktu itu.hahaha

Check this out!

Benda tertajam di muka bumi
Menusuk dalam, hati setiap insan
Ciptakan luka terparah yang pernah ada
Dan kami yang mengharap cahayamu
Malah kau tutup tirai langit nan kelabu
Kau biarkan kami berpeluh bekerja untukmu
Kau tampung peluh kami, untukmu sendiri
Tak kau berikan sedikitpun cahaya matamu

Jangan datang jika kau tak ingin datang
Andai kau adalah kami, apa kau juga seperti ini?

Api emosi terus menjalar, semua tersambar
Kucoba meredam, aku tak bisa diam
Jangan kau pikir kami ini boneka!
Tapi jika kami ini memang boneka
Kami TERBAKAR !
Jika kami terbakar, apa kau akan menangisi kami?
ApKaa kau akan kehilangan kami?
Apa kau akan memeluk kami yang telah abu?
Hentikan sinetron busukmu itu!
Hentikan sandiwara yang tak layak itu!

Kami MUAK!
Kami tahu tentang TOPENG itu!
Kami tahu apa yang ada di balik TOPENG itu!

Hai, MUNAFIK!
Puaskah kau telah mencabik habis kami?
Memakan hati kami?
Meminum peluh kami?
Merobek lembaran tubuh kami?


JANGAN DATANG JIKA KAU TAK INGIN DATANG
Andai kau adalah kami, apa kau juga seperti ini?
  

~Inas Yaumi Aisharya~
Sabtu malam, 26 Maret 2011



Kata-katanya mengerikan banget. Ketauan kalo lagi bener-bener kecewa. Kapan ya bisa serius bikin kayak gini lagi? Hmmm...........

03-04-2014  23.40

Rabu, 02 April 2014

Sosok Kecil yang Inspiratif

Aku selalu percaya bahwa sosok inspiratif selalu ada di mana pun kita berada. Di mana pun ketika kita bisa membuka pikiran kita bahwa ia, atau mereka adalah inspirasi. Siapa pun mereka.

Seperti beberapa sosok yang akan aku ceritakan di postingan kali ini.

Ku menatap matanya tanpa sengaja
Kuulurkan tanganku ketika pertama kali menyapa
Kecil sosoknya
Besar jiwanya
Kecil matanya
Terang sinarnya
Ia buka hatiku secara perlahan
Bahwa ia ingin menjadi sosok yang apa adanya
Dengan tiada beban di garis tawanya
Bahwa ia ingin menggapai bintangnya
Dengan lompatan yang setinggi-tingginya

Merekalah peserta didik di sebuah SD Negeri di Kota Surabaya. Kebetulan yang aku dan teman-teman kunjungi saat itu adalah kelas 5nya dalam rangka pelaksanaan agenda mengajar. Berhubung kami adalah mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, jadi yang kita ajar, hm, beri tahu kepada mereka adalah wawasan mengenai lingkungan hidup dan perkotaan, lebih mengerucut lagi kepada kawasan sejarahnya.
Aku mendapat bagian menjadi penanggung jawab kelas 5C. Ketika aku dan teman-teman memasuki kelas, antusiasme mereka terlihat sangat tinggi. Itu dibuktikan dengan tepuk pramukanya yang mereka perlihatkan kepada kami sebelum materi dimulai. Aku sempat tercengang. Aku sempat salah tingkah. Aku sampai nggak tau harus memuji mereka seperti apa. Aku sampe nggak tau gimana caranya menyembunyikan rasa kagum yang berlebih ini.

Ada satu anak yang kupikir adalah ketua kelas. Dia sangat dominan di kelas. Namanya Radit. Aku lupa siapa nama lengkapnya. Kalau kamu ingat masa SD-mu, ketika melihat dia pasti kamu teringat sama temanmu yang paling nakal satu sekolah. Ocehannya lucu, kadang mengganggu. Tapi, ya, namanya juga anak kelas 5 SD. Mungkin dia butuh perhatian lebih, dan yang pasti dia butuh pendidikan yang luar biasa. Dari segi baik dari segi akademik, maupun psikologi.

Kover memang kadang menipu
Proses dibutuhkan jikalau tidak ingin malu
Tidak seperti aku
Ternyata kamu
Bukan sangkaanku

Kegiatan mengajar ini berlangsung selama dua hari. Setiap hari sabtu, dalam dua minggu berturut-turut. Ketika hari kedua akan berakhir, aku baru menyadari bahwa aku telah salah men-cap Radit sebagai anak yang nakal. Ternyata dia punya hati, ternyata dia peduli. Ketika kelas 5C dinobatkan menjadi juara 1 dalam perlombaan kali itu dan mendapat hadiah jajanan anak SD yang super banyak, dan ketika teman-temannya berebut untuk mendapat bagian lebih, dia bilang sama aku, “Mbak, ini sisain buat guru boleh, ya?” Aku memandanginya sesaat, kagum. Aku yang sebesar ini aja nggak peka kalau mereka akan bertemu guru di hari Seninnya. Aku langsung mengiyakan tanpa banyak tanya dan berkata.



Kecil tubuhmu
Jauh pikiranmu
Besar impianmu
Kuat jiwamu
Jauh langkahmu gapai citamu


Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sikap dan perilaku anak SD. Salah satu contohnya adalah kekuatan mereka untuk memiliki cita-cita. Bahkan selama 18 tahun ini aku nggak tau aku bakal jadi apa esok hari. Kusorot satu anak, Andika. Anak laki-laki berbadan mungil dengan senyum yang sangat manis. Aku sudah melihat bakatnya ketika pertama kali kuberi tugas untuk menggambar. Teman-temannya yang lain bahkan iri padanya karena bakat menggambarnya. Katanya, ia mau menjadi arsitek atau pelukis. Dengan jiwanya yang kuat, aku yakin pasti dia bisa mewujudkannya.

Matanya liar menatap sekitar
Kacamata tak menjadi penghalang
Justru itu adalah kekuatan
Untuk mengatakan TIDAK pada suasana yang salah
Dan IYA dalam kebenaran
Tanpa rasa gentar bertanam di benaknya

Indy namanya. Cantik, berambut panjang yang selalu dikucir kuda. Kacamatanya menambah kesan jenius pada wajahnya. Sikapnya yang tomboi sesuai dengan pikiran kritisnya yang tajam. Lidahnya langsung bergerak ketika ingin berbicara. Aku lihat nilai akademiknya nggak begitu bagus, tapi wawasannya sangat, sangaaaaaatt luas. Aku pun baru pertama kali bertemu dengan kritikus kecil, dengan kata ‘sabotase’nya yang membuatku tercengang. Gila, anak kelas 5 SD bicaranya udah kayak gini, aku aja kalah. Walaupun sikap manjanya masih terlihat, tapi aku yakin Indy berkesempatan bagus untuk menjadi seorang perubah lingkungannya.

Itu adalah beberapa anak-anak inspiratif yang paling menonjol saat itu. Bukan, bukan aku yang pilih kasih, tapi aku baru melihat beberapa. Penilaian itu butuh proses. Bisa jadi yang lain lebih inspiratif.

Air mata pun menghiasi pelepasan kami dengan mereka. Aku paling nggak suka sama perpisahan kayak gini. Foto sana-sini, minta nomor hp sana-sini, biar kelak tali silaturahmi di antara kami nggak putus.

2-04-2014 23.21