Selasa, 29 April 2014

Tentang aku

Mau tau pandangan orang lain tentang aku?
"enggak tuh"
"yaudah gak usah" huhuuuu *ngerengek nangis di bawah shower*

buka  ini!!

jadi yang sudah berani-beraninya mendeskripsikan aku ini namanya memes. mega suryaningsih. dia mau banget ditulis di blog-ku. tapi aku belum mood. entar ajalah yaaaaaa hahaha :*

Kamis, 24 April 2014

Ini adalah Malam

Ini adalah malam
Yang menyisakan sayup-sayup bekas suara hujan
Malam yang terus meredup
Menyisakan aku dalam keheningan
Membiarkan aku menutup mata dan bergulat dalam pikiran

Ini adalah hujan
Yang menyeret kenangan-kenangan
Hujan rintik yang masih tersisa
Meleburkan aku dalam kenangan, dan terhapus oleh hujan
Menyatukan aku dengan kenangan, dan menjatuhkan aku dalam diam

Ini bukan salah malam,
Ini juga bukan salah hujan.
Aku juga tidak menyalahkan kenangan
Tapi kenangan membawaku dalam sebuah kisah
Ketika kamu terhanyut dalam air mata,
Ketika aku terhentak oleh lara,
Kamu dan aku menyatukan kekuatan di atas itu semua

Hanya dalam satu gertakan, semua itu musnah
Tidak lagi kuhirup aroma lembutmu

Hanya dalam satu kali malam dan satu kali hujan
Yang masih terus meredup dalam rintik yang tersisa
Aku dan kenangan terlebur,
Membawaku terjatuh dalam diam.


buat orang yang pengen dirinya ditulis di blog-ku. nggak usah sebut nama kali, ya.hehe
Aisharya, 24-04-2014 18.45

Sabtu, 19 April 2014

Ini Malam Minggu, Bro!

Ini malam minggu, Bro!

Niatnya cuma di kosan.

Niatnya cuma main laptop di kosan.

Niatnya cuma main laptop terus tidur di kosan.

Niatnya cuma main laptop terus tidur terus bangun pagi di kosan.

Tapi karena niat itu nggak seberapa kuat dengan godaan ajakan keluar yang diajukan oleh seorang temanku, akhirnya aku keluar dari kosan.

Keluar dari kosan.

Keluar dari kosan niatnya cuma mau makan malam.

Keluar dari kosan niatnya cuma mau makan malam di sekitar Surabaya.

Faiz namanya, yang menghancurkan semua niat-niatku.

17.50
F : Nas, nganggur gak lu? Mau keluar gak?
18.01
I : Ayo, habis isya aja ya
18.02
F : mau kemana enaknya?
18.12
I : terseraaahhh..........

gak dibales

18.35
I : sutos dah yuk. belum pernah kan lu kesana? gak ada apa-apaan sih.

gak dibales

18.59
I :  jadi gak? kalo jadi gua siap-siap nih

19.31
F : Nas, jadi gak nih??

Dan Delivery Report sms-smsku yg nggak dibales tadi baru bermunculan.

19.31
I : Astagaaaaa kenapa baru pada deliv sms guaa. Ayo dah jadiin

19.32
F: Ya udah, ayo jalan. Gua siap-siap

19.36
I : Gua juga

19.40
F : Nas gua otw
 
19.55
F : Nas, gua udah di depan kos lu


Berangkatlah kami, padahal si Faiz belum menentukan mau ke mana tujuan kita. Dia menyatakan bahwa dia nggak mau ke sutos, tapi pengen tau Sutos itu di mana. Tapi dia juga nggak tau mau makan di mana kita.

Aku nurutin maunya dia. Kita caw ke Sutos. Habis gitu kita sama sekali nggak tau mau makan di mana. Aku ingat-ingat kalo di Jalan Walikota Mustajab itu banyak makanan. Melaju lah kami ke sana. Ternyata nggak begitu banyak, bahkan banyak yang tutup. Tapi ada Sate Klopo yang asapnya mengepul sampai ke jalanan. Tapi kami kebablasan. Sambil memutar arah kubilang ke Faiz kalo (katanya) Sate Klopo yang tadi itu enak. Setelah memutar arah sebelum sampai di Sate Klopo, ternyata kami berdua baru ingat kalau kami belum ambil uang di ATM! Putar arah lagi lah kami cari ATM.

Akhirnya ATMnya ketemu, tapi ternyata sulit kalau mau berbelok ke Sate Klopo tadi setelah keluar dari ATM. Si Faiz nyeplos, "Sidoarjo dah yuk. Daripada bingung." Aku melihat jam: 21.05. Dan seketika aku balas, "Ayo dah". Faiz nggak percaya, "Serius, lu." Kujawab, "Yee, gue diseriusin. Ya serius, lah!"

Motor kami melaju dengan cepat ke Sidoarjo. Padahal di antara kami nggak ada yang tau mau makan di mana kalau di Sidoarjo. Ya, pokoknya jalan.

Nyampe tengah kota Sidoarjo (kayaknya sih tengah kota), aku melihat tulisan sangat menarik: Spesial Iga Bakar. Letaknya di jalan KH Mukmin no.31 Sidoarjo. Aku dan Faiz langsung memastikan bahwa kami akan makan malam di sana.

Jam menunjukkan pukul 21.50 ketika kami sampai di sana. Dan tempat makan itu tutupnya jam 22.00. Kami adalah pengunjung terakhir! hahaha

Aku pesan Iga Bakar Cabe Ijo (28K), Jus Stroberi (10K), sama Air Mineral(4K).
Faiz pesan Iga Penyet (28K), sama Jeruk Manis Hangat (8K).

Pesanan kami belum sampai di meja mas-mas petugas udah naroh plang tanda tempat makan di tutup, lho. Fix banget kan kalau kita itu pelanggan terakhir! hahaha

64K + 22 K = 66K :D
Selesai makan, aku minta bill.

"Enam puluh enam, mbak," kata mas-mas petugasnya. Aku ambil bill-nya. Aku lihat, aku mulai curiga. Tapi aku diam aja, nggak mau bicara, dan berpikir Mungkin mereka punya perhitungannya sendiri. Aku langsung mengeluarkan satu lembar lima puluh ribu, satu lembar sepuluh ribu, satu lembar lima ribu, dan satu lembar uang seribu. Uang pas!

Ketika berjalan ke parkiran si Faiz nanya dia habis berapa, buat gantiin uangku yang kubayarkam tadi. Hitung-hitung, dia habis 40K.

Pukul 22.15 kami pulang. Di jalan aku kepikiran pembayaran tadi. Total habisnya kan 66K. Kalo si Faiz 40K, masa aku cuma habis 26K padahal minumanku lebih banyak. Aku mikir. Kuminta bill yang Faiz pegang.

Ternyata si Abang petugas tempat makan salah hitung. Harusnya kami berdua habis 86K. Tapi mungkin karena udah malam dan ngantuk jadi ditulisnya 66K.

Ketika menyadari itu, posisi kami sudah jauh dari tempat makan. Nggak mungkin lah kami balik ke sana lagi, udah malam juga. Jadi, kami anggap itu sebagai kortingan karena kami adalah pelanggan terakhir.Ngakak sampai habis dah itu di motor sama si Faiz. Duh, parah, dah! Tapi alhamdulillah, Bro!

Akhirnya aku sampai di kosan jam 23.00. Langsung aku buka laptop, nggak tahan mau cerita di blog.wkwkwk



20.04.2014-00.06

Jumat, 18 April 2014

yang Tertiba, yang Didamba

yang Tertiba, yang Didamba

Di garis pantai ini aku meneriakkan lengkingan kebebasan

Di atas perahu kayu ini aku mendapatkan
sesuatu yang sering kudamba, saat terpendam emosi jiwa

Di saat mentari perlahan menyembunyikan dirinya
yang menjadikan senja berselimut oranye,
aku bercerita tentang sebuah perjalanan
untuk menggapai secuil kebahagiaan.

Perjalanan yang tertiba,
perjalanan yang didamba 


Wah, senang rasanya bisa menulis sebuah syair sederhana lagi seperti di atas. Jadi aku mau sekedar cerita perjalanan tak terduga selanjutnya. Hari ini, 18 April 2014, Pantai Camplong (lagi) bersama personil lain, secara tidak sengaja. Catat, TIDAK SENGAJA!

Kenapa di atas kubilang lagi? Baca ini. Kalau baca postinganku yang itu, pasti ngerti, lah hahaha

Tanggal hari ini adalah tanggal berwarna merah di kalender yang bertepatan dengan hari Jumat. Itu artinya, ini adalah LONG WEEKEND! Di awal aku menyadari bahwa ini adalah akhir pekan yang panjang aku malah sedih. Kenapa? Karena aku nggak bisa pulang, soalnya aku masih punya tanggungan di kampus. Aku iri banget lihat teman-teman pada pulang. Yang dari Jakarta dan sekitarnya aja pulang, apalagi yang rumahnya masih di Jawa Timur. Surabaya sepi, bro!

Bersama teman-teman rantau yang senasib, aku merencanakan liburan untuk hari ini. Sumpah, nggak ada yang ngasih kejelasan mau pergi kemana, sama siapa aja, naik apa. Akhirnya aku ajak beberapa anak buat makan siang di Bebek Sinjay, Madura. (Untuk yang nggak kuajak, aku bukannya jahat sama kamu, tapi aku mempertimbangkan keadaan yang mungkin terjadi selanjutnya. Maaf, ya) Akhirnya aku pergi juga bersama 4 orang lainnya: Afif, Dian, Selvy, Wihel. Kami berangkat sekitar pukul 13.30 gara-gara nungguin si Afif habis solat Jumat dandannya lama banget-_- hahaha

Kalau mendengar kata Bebek Sinjay pasti langsung terbayang gimana ramenya tempat itu, gimana ngantrinya. Tapi betapa beruntungnya, ketika kami ke sana, tempat makannya nggak seberapa rame kalo dibandingkan dengan hari-hari libur lainnya. Biasanya bisa sampai 2 kilometer tuh ngantrinya *lebay* hahaha. Emang masih ngantri, sih, tapi nggak seberapa, lah.

Jam masih menunjukkan pukul 3 kurang 15 menit ketika kami selesai makan. Si Wihel bilang, "mumpung di Madura, nih, ke pantai, yuk!" Aku sebenarnya ragu, soalnya cuacalagi hujan saat itu. Dian pun mau ada janji jam 6 di Surabaya. Tolak halus sana-sini akhirnya Wihel menang. Setelah solat Ashar, melaju lah kami ke Kabupaten Sampang, tempat Pantai Camplong berada.



dari kiri: aku, selvy, dian, wihel, afif



Nyampe. Tapi sayang, langitnya agak mendung. Sayang banget sunset-nya jadi agak nggak kelihatan. Tapi langitnya tetep keren banget, bro!! Nyampe di sana kami langsung naik perahu kayu yang membawa kami ke tengah laut, terus balik lagi. Foto sana-sini, ketawa sana-sini sampai setelah kami turun dari perahu Adzan Maghrib berkumandang. Kami solat Maghrib, terus langsung pulang. Dian nggak jadi janjian, soalnya orang yang dijanjiin juga masih dalam perjalanan. Dan cuma seperti itu yang kami lakukan di Pantai Camplong. Hahaha

FYI nih, Pulau Madura itu masih belum banyak pembangunan. Pulau Madura juga masih belum banyak polusi cahaya. Nah, pas perjalanan pulang dan posisi kami sedang di tengah hutannya Madura *lebay*, aku iseng ngelihat langit. Dan asal kamu tau, bro, BINTANG BERTABURAN. Berasa ditaburin bintang banyak banget. Sumpah keren! Keren banget! Hal-hal yang kayak gini nih yang jarang banget ditemukan di kota besar, soalnya cahaya kota ngalah-ngalahin kecemerlangan bintang.

Obrolan terus menerus terlontar ketika perjalanan pulang. Satu kalimat yang masih terngiang di telingaku saat ini: "Kita ini aneh, ya. Giliran direncanain matang nggak pernah terlaksana rencananya, giliran nggak direncanain malah jadi."

18-04-2014 23.36

Kota Bekasi (lagi)

Ingat postingan mengenai ini?

Tadi papa nelpon, katanya mau comment kok nggak bisa. Ternyata papa belum punya account gmail buat komen-komen tulisanku. hahaha akhirnya beliau nelpon dan bilang:

Bekasi itu dulu terkenal, lho, mbak. Kan ada puisinya Chairil Anwar yang Karawang Bekasi.

Terus aku ber a-o ria, aku juga masih nggak paham kenapa kemarin nggak kepikiran itu sama sekali. Nah postingan kali ini berisi puisinya Chairil Anwar yang Karawang Bekasi.

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
 
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)

Jumat, 11 April 2014

Dewasa

Masih jam 5 pagi, dan aku udah nggak tahan buat ngangkat judul ini di blog. Padahal tugas review jurnalku belum dikerjain sama sekali, sedangkan Senin pagi sudah harus dikumpulkan. Pemalas? Oh, jelas tidak. #beladirisendiri haha
 
Jadi gini, entah aku yang lebay apa gimana, tapi di masa perkuliahan ini tuh orang-orang bermasalah banget sama status dirinya yang masih jomblo, atau baru jomblo, atau ngakunya single tapi tetep aja jomblo. Seakan-akan takut banget selepas kuliah nggak dapat pasangan hidup. Aku juga sih, tapi aku biasa aja sama status ini, toh jodoh juga pasti datang di waktu yang tepat #cieeeeehhhh

Di antara sekian wanita yang merasa dirinya jomblo, pasti dari  mereka ada yang menetapkan kriteria pria idaman. Satu yang pasti terucap kalau ditanya kriteria adalah dewasa. Ya, siapa juga yang nggak mau punya pasangan yang dewasa, yang bisa membimbing dirinya di dunia dan di akhirat. #ciehlagi
 
Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, apa sih makna dewasa itu?
 
Apakah usia menjadi jaminan dia sudah dewasa?
 
Menurutku, 
  • Dewasa itu nggak bisa dilihat dari fisik.
  • Dewasa itu berkaitan banget sama pemikiran.
  • Dewasa itu berkaitan banget sama kebiasaan.
  • Dewasa itu berprinsip.
  • Dewasa itu yang bisa menjadikan kewajibannya menjadi kebiasaan. #yginikeren

Jadi, dewasa itu nggak semata-mata dilihat dari umur, terus omongan yang sok-sok bijak, enggak sama sekali. Nggak semata-mata yang umurnya sudah 22 itu yang dewasa dibanding umur 19. Ini dewasa, bukan tua. Tolong bedakan. Walaupun memang bisa jadi karena pengalaman hidupnya yang sudah lebih banyak, tapi menurutku pengamatan kedewasaan itu harus dilakukan lebih. Kalau mau melihat seorang itu dewasa atau enggak, nggak bisa dilihat sehari-dua hari. Pengamatan yang lama aja membutuhkan kepekaan tingkat dewa.
 
Tapi yang perlu diingat: ini hanya pemikiran dan benar-benar murni pikiranku aja.
 
Lagi, yang dewasa itu belum tentu sempurna.  Jadi, jangan menuntut kedewasaan seseorang dengan kesempurnaan.
 
Saya pun masih belajar untuk bisa lebih dewasa.
 
#inasedisisokbijak
#inasbelumdewasa

12-04-2014 05.37 Aisharya