Senin, 16 Mei 2016

5,6 RICHTER SCALE EARTHQUAKE HIT SAITAMA!!!

Aku baru saja sampai kamar kosku. Duduk. Main hp. Malas buat ganti baju.

Tiba-tiba ada suara. Kencang. Kukira petir. Tapi kok lama. Bergetar.

Alarm di gedungku bunyi. Aku panik. Langsung keluar kamar. Lari ke bawah. Lari ke luar.

5 anak Indonesia keluar semua. Kita panik. Dan dari seluruh gedung cuma kita ditambah 2 mas-mas Jepang ganteng

Kalimat pertama yang mereka lontarkan adalah "Your first time?"

Gila bener. Aku heran.
1. Yang keluar gedung dari sekian banyak bangunan yang at least bertingkat 2, cuma kita bertujuh.
2. Sesering itukah gempa di Jepang sampai kalimat pertama yang dilontarkan adalah itu?

Beberapa menit di luar. Mas-mas ganteng itu masuk lagi ke dalam gedung. Kita ngikut.

Sampai beberapa menit anak-anak Indonesia ini agak alay. Nggak ada yang berani sendirian di kamar.


Well, sampai detik ini aku masih tegang.

Anyway, bicara soal gempa bumi. Dalam hidup aku, aku pernah beberapa kali mengalami gempa bumi.

1. Gempa Bumi Semarang. Saya saat masih berusia 4 tahun. Waktu itu ceritanya lagi mau ambil pisau di dapur buat potong apel. Terus tiba-tiba goyang. Lumayan kencang. Mungkin hampir mirip dengan gempa bumi barusan. Langsung keluar rumah dan berakhir dengan muka pucat.

2. Gempa Tasikmalaya. 2009. Waktu itu, keluargaku lagi memelihara kucing. Kucing kecil, lucu. Suka dimasukin ke lemari kayu kecil yang ada bolongannya dan ada pegangan besinya. Kucing itu suka banget mainin pegangan besinya dari bolongan kalo lagi di dalam. Entah gimana ceritanya tiba-tiba kucing itu kabur. Hilang. Suatu hari, aku lagi sendirian di rumah, pulang sekolah. Tiba-tiba aku dengar ada bunyi pegangan besi itu. Aku mikir, apa si kucing, tapi kan udah kabur. Terus aku cek ke lemari itu dan nggak ada si kucing. Terus aku kok merasa bergetar-getar. Dengan otak yang rada lelet saat itu, beberapa detik kemudian aku baru sadar itu gempa. Langsung aku keluar dan benar saja tetangga-tetanggaku sudah berhamburan keluar.

Ya, seingetku sih itu. Dimohon untuk tetap waspada dan selalu berdoa :)

Kamis, 05 Mei 2016

Ketemu Malaikat (?)

Postingan kali ini disponsori oleh teman saya dari kecil. Saya lagi cerita-cerita tentang pengalaman di Jepang. Terus kok kayaknya asik juga cerita satu ini di-post di blog.


Kejadian ini terjadi sekitar hampir dua minggu lalu. Tanggal 24-25 April 2016.

Tanggal 24 April, bertepatan dengan hari minggu. Rasanya aku sedang malas kemana-mana. Ditambah perasaan lagi mellow banget, masih homesick nggak karuan. Akhirnya hari itu kuputuskan untuk mengurung diri di kamar. Sampai-sampai aku nggak ngebukain pintu buat teman-temanku yang nge-bel kamarku. Berkali-kali. Sepanjang hari. hahaha oke aku jahat banget. Tapi ya, gini deh kalo penyakitnya lagi kumat: nggak mau diganggu!

Rasa-rasanya kok nggak berguna banget hidup kalau cuma dihabiskan di kamar. Akhirnya hari senin kuputuskan untuk keluar kamar. Masih dalam keadaan nggak mau diganggu, akhirnya aku pergi ke kampus diam-diam dari teman-teman saya, dan pergi dari kampus diam-diam.

Hari itu masih sore, tapi aku sudah bosan dengan dunia kampus. Kuputuskan untuk pergi ke Post Office, kalau bahasa Jepang -- Yubinkyoku. Pengen rasanya ngirim kartu pos ke sanak-saudara. Aku tau letak kantor pos dekat stasiun, akhirnya kunaiki bis gratis menuju stasiun dan kumenuju arah kantor pos. Nggak ada tulisan besar-besar "YUBINKYOKU", nggak ada. cuma ada lambang-lambang yang kucurigai sebagai kantor pos.

Kudekati bangunan dengan lambang itu. Aku semakin yakin kalo itu kantor pos. Tapi buat meyakinkan lagi sebelum masuk, kuberanikan diri bertanya dengan seorang ibu-ibu tua yang sudah menyelesaikan urusannya di bangunan itu.
"Sore wa yubinkyoku desu ka?" Apakah itu kantor pos?
"Hai, hai. yubinkyoku desu."
"Arigatou gozaimasu" sambil membungkukkan badan.

Kumasuki lah gedung itu.

Bingung.

Aku bener-bener nggak ngerti harus ngapain. Namanya juga random, nggak ada persiapan buat pergi ke kantor pos, apalagi buat browsing-browsing. Nggak mau berlama-lama akhirnya kutanya bapak-bapak paruh baya yang kayaknya sih petugas, tapi ternyata bukan hahaha.
Tujuanku adalah kartu pos.
"Sumimasen, pos kaado?"
Dia bingung.
Hm, kubuka kamus jepang.
"Hagaki desu--kartu pos"
"Oh, sore wa--itu" sambil nunjuk ke loket yang ada petugasnya.
"Oh hai, arigatou"

Aku jalan sekitar dua atau tiga langkah ke loket itu.
"Konnichiwa" sapanya. Mbak-mbak, kayaknya umurnya masih 25-an lah.
"Konnichiwa. Ehm...hagaki?"
Dia mengambil beberapa kartu pos.
Polos.
Nggak kayak yang aku harapkan, yang ada gambar-gambarnya gitu.
Aku nggak tau  mau ngomong bahasa jepangnya kayak apa.
Oke, buka kamus.

"Betsu no--lainnya?"
"Oh, cotto--tunggu" dia ngambil. Sama aja. Polosan. waduh, apaan yak gimana.
Aku putar otak. Aku lihat di belakang mbaknya ada gambar-gambar lucu.
"Sore wa nan desu ka? -- itu apa?" Dia ngambil yang aku tunjuk
"Sore mo hagaki desu. Ini kartu pos juga"
"Waaa ikura desu ka? -- Berapa harganya?"
Dia nulis angka 185 di kertas catatannya.
"Oh, hai, cotto." Aku milih-milih. "Kore wa--ini"
"Ehm, Indonesia, ikura desu ka"
Terus tiba-tiba dia ngeluarin perangko. Nunjuk-nunjuk. Ngomong yang aku nggak ngerti artinya. Sumpah bener-bener dah. Dia juga bingung.

Tiba-tiba ada yang nyolek aku dari belakang. Aku deg-degan. Ini beneran deg-degan. Banget. Soalnya kan aku lagi males ketemu orang yang aku kenal, kan. Takut kalo itu temenku.

Aku nengok. Mbak-mbak. Penampilannya kayak cewek Jepang pada umumnya. Rambut lurus agak coklat, mata sipit, kulit putih, nggak begitu tinggi. Dia kelihatan lagi antri buat tarik uang di ATM.

"Orang Indonesia?" Sumpah aku kaget. Orang ini pernah ke Indonesia kalik dulunya, pikirku.
"Iya." Balasku. 
"Are you okay? Bisa bahasanya?" Wah, orang ini gimana sih. Orang Indonesia kah? batinku
Aku nyengir. Aku jujur kalo kesulitan. Akhirnya aku mbak-mbak tadi ngejelasin apa yang tadi dia jelasin ke aku.
"Oalah, kamu kalo mau kirim ke Indonesia harus pake perangko itu. Yang 100 sama 120. Kalo yang internal Jepang yang 100 aja cukup"
Mulutku membentuk huruf "O".
"Tapi aku mau kirim satu aja, yang lainnya mungkin nanti" Terus dia jelasin ke mbak-mbak petugasnya. Daaan...beres!
Sambil mbak petugasnya menghitung pengeluaranku dan  membungkusnya, aku sempetin nanya identitasnya dan dia juga nanya identitasku.

Dia orang Indonesia. Pergi ke kantor pos sama Ibu mertuanya. Suaminya asli Jepang. Dia sudah 13 tahun tinggal di Jepang. Rumahnya sekitar Higashi-Omiya juga, daerah Nana-sato.

Setelah selesai dan berterima kasih-terima kasih, aku duduk buat nulis di kartu pos. Terus dia ke pintu keluar. Pergi. Hilang. Perasaan tadi dia antri ATM.

Hm, mungkin malaikat, pikirku. wahahahaaa

Akhirnya kutulis kartu pos buat keluarga di Bekasi. Menempelnya dengan perangko, dan memasukkannya ke kotak pos. Katanya, dalam 10 hari akan tiba di tempat tujuan.

Setelah itu, kulanjutkan jalan-jalan sendiriku menuju  Hikawa Shrine dekat sini. Ada. Kecil. Ceritanya di postingan selanjutnya, ya!

Kamis, 28 April 2016

Apa Kabar, Sayang?

Apa kabar, Sayang?

Aku masih bertanya-tanya dalam benakku

Mengapa semakin lama

Aku tidak lagi mengenal dirimu

Semakin lama semakin jauh

Apakah.....

Kita memang ditakdirkan untuk semakin menjauh

Lalu terpisah?

Apakah kamu ingin, Sayang?



Apa kabar, Sayang?

Apakah kamu 

Masih ingin mendengar kicauanku?

Yang dulu selalu kamu minta, kamu tunggu

Apakah kicauanku semakin keras

Sehingga merusak gendang telingamu?

Menyimpan kerinduan terlalu lama itu

Tidak enak, sayang

Aku bahkan tidak tahu apakah kamu

Masih ingin dirindukan

Apalagi merindukan

Sayang,

Izinkan aku kembali menatap matamu

Dan memanggilmu

Sayang

Nggak jelas, Pek. Apa-apaan ini. wahahaahaaaa ternyata aku masih bisa bermelankoli. Halah, aku juga ga pernah bagus membuat syair-syair melankoli seperti pujangga di Official Account Line, kan?

Selasa, 26 April 2016

Yaps!

Habis nulis artikel barusan, ceritanya aku scroll-down-in blog aku sampe bawaaaaaaaahhhh banget.

Baca. Ngakak sendiri. Senyum-senyum. Malu juga. Ngapain dah hal yang sebenarnya nggak penting aja ditulis wakaka

Terus nemu postingan. Aku ngepost itu dan menghubungkan dengan artikel temanku di blognya sendiri.

Dia nulis tentang aku!

Tentang Gilanya aku

Tentang aku di mata dia

Tentang kebiasaan-kebiasaan kita waktu itu

Waktu dia ngepost itu

Semester Dua

Sekarang Semester Enam


Terus tiba-tiba aku baper. Hal-hal yang terjadi saat itu rasanya sangat menggembirakan. Nggak ada beban tugas yang bikin orang senggol bacok sekarang. Nggak ada sesuatu yang bikin emosi. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana, dan baik-baik saja.

Ah, tapi toh hidup kalo lempeng aja namanya bukan hidup. Nggak ada perkembangan. Lagian toh waktu itu kita masih semester dua. Masih tau hal-hal baik dari temen-temen kita, belum sampe berantem. Nah, kalo udah dongkol-dongkolan tapi masih aja temenan, masih aja kemana-mana bareng, atau kalo lagi jauh gini masih aja chat-chat-an, yaaa namanya besties ituuu waaaaa....kangen banget.

Postingan Baper.
Udah gitu aja.

Negeri Sakura

Weheeee....janjinya doang lu mah, Nas, katanya mau nulis lagi hm.

Oke ini nulis lagi.

Siap?


Dua Puluh Enam April Dua Ribu Enam Belas. Tandanya, sudah dua puluh enam hari saya berada di Negeri antah berantah ini. Negara yang terkenal dengan sakuranya, memang sengaja kubilang antah berantah, because everything is new here. Dari kampusnya, makanannya, dosennya, bahasanya, tempat tinggalnya, temen-temennya, dan waktu dua puluh enam hari belum cukup buat menyingkirkan homesick-ku.

Kangen. Banget. Sama semuanya.

Tapi aku selalu ingat mau apa aku di sini, mau jadi apa setelah ini ada di tanganku. Nggak mau lah perjalanan yang menyita banyak waktu, menguras banyak tenaga dan menghabiskan banyak materi ini terbuang sia-sia. Yaps, banyak yang ingin aku pelajari dari Negeri Sakura ini. Aku ingin membuktikan yang katanya......katanya......dan katanya.

Kalo orang-orang nanya, "Mbak, ngapain di Jepang? Pertukaran Pelajar, ya?" lalu pertanyaan itu kujawab iya, maka lanjutannya adalah "Wih, pinter, dong?" Lalu kubalas dengan cengiranku yang asam. Kalau dibilang pinter banget sih nggak juga. Bahkan kalo aku perhatikan, aku hanya anak-anak biasa di kampus. Aktivis yang gak aktif-aktif banget, akademik juga biasa aja. Bahasa Inggris, aku bahkan takut buat nulis artikel ini pake bahasa Inggris. Aku cuma salah satu orang yang beruntung yang mengambil kesempatan yang ada, dan mau terus belajar dengan tekanan kebodohanku ini. Udah, itu aja. Ya, masing-masing orang punya tujuan hidup masing-masing kan, dan aku yakin kok mereka yang nggak terekspos prestasinya, bukan berarti orang yang nggak berprestasi, kan?

Hm, ini postingan random banget gara-gara habis baca blognya seniorku wahahaha

Udah ya,

Salam Rindu dari Negeri Sakura.

Jumat, 04 Maret 2016

MAU MAU MAUUUU!!

it's been a long time i did not write here.

kangen
.
.
.
.
.
.
.
yap, terakhir kali postinganku sekitar bulan Desember tahun 2014 dan sekarang sudah bulan Maret 2016.

artinya, 2015 tanpa tulisan.


HAMPA.

Kurasa blog ini sudah penuh oleh sarang laba-laba, kayak rumah yang udah lama nggak diurus sama penghuninya.

Well, karena satu tahun lebih aku nggak nulis, aku ingin menceritakan hal apa yang terjadi selama satu tahun yang telah terlewati itu. Tapi, seperti yang sudah-sudah, tulisan adalah bekerja untuk keabadian. Sedangkan satu tahun tanpa tulisan--kuakui aku menyesal--semuanya seperti berlalu begitu saja tanpa diabadikan.

Bukan, bukan aku tidak berkata 2015 tidak berkesan. Hanya satu dan lain hal yang menyebabkan aku keterusan buat nggak nulis.

Okay.

Sekian.

Selanjutnya, aku mau nulis lagi.

Aku mau
.
.
.
.
.
.
.
.
.
MAU!

Senin, 05 Januari 2015

Refresh................

Refreshing yang paling seru adalah refreshing yang kembali ke alam.

 Ini cerita tentang perjalanan enam orang kawan. Dipertemukan di Surabaya, dan menjalani petualangan ke Ponorogo dan Pacitan.

Kisah ini dimulai dari tanggal 24 Desember 2014, pagi hari. Kami memulai perjalanan dengan menggunakan bus antar kota. Perjalanan sekitar 4,5 jam dari Surabaya hingga Ponorogo. Bus berangkat pukul 07.30 dan sampai di Ponorogo pukul 12.00. Kami singgah dan beristirahat di rumah salah satu teman kami. Kami beristirahat dan makan siang di rumah sederhana tersebut.

Tujuan utama kami adalah Pacitan, tapi tidak mungkin dicapai jika kami berangkat siang itu karena di sana tidak ada rumah kerabat untuk disinggahi. Akhirnya kami putuskan untuk berjalan keliling Ponorogo.


Puncak itu terkadang menggiurkan, selalu ingin ditaklukkan. Tapi ada juga puncak-puncak tertentu yang berbahaya jika tidak matang dalam persiapan diri.

 
Kami memutuskan untuk pergi ke Telaga Ngebel. Letaknya tidak begitu jauh dari persinggahan kami. Kami pergi dengan menggunakan mobil yang kami sewa yang dikendarai oleh salah seorang dari kami.

Akses menuju Telaga cukup sulit. Banyak jalanan menanjak pun tikungan. Awalnya, kami biasa saja. Senang-senang saja. Sampai pada suatu tanjakan plus tikungan mobil yang kami kendarai mati. Kami semua panik. Untung ada Bapak-Bapak yang menolong kami. Karena takut, kami meminta Bapak itu untuk memutarbalikkan mobil kami, dan kami tidak jadi menuju Telaga. Yang membuat asik adalah ketika mobil tersebut dikendarai oleh Si Bapak Penolong, Bapak tersebut malah mengendarainya dengan kencang dan membuat kami semakin takut. Tapi setelah itu kembali teman kami yang mengendarai mobil itu.

Daripada bingung nggak karuan, kami menemukan sebuah sungai berbatu yang cukup indah untuk berfoto. Hilanglah rasa kecewa kami. Hm, menurutku sih rasa kecewa pasti hilang jika dijalani bersama, kok ;)




Berpindah itu perlu. Penghubung suatu tempat adalah jembatan. Namun tak selamanya mengasyikkan, kita harus pandai-pandai mengatur keseimbangan diri dan meredam emosi apabila suatu ketika jembatan itu bergoyang.


Setelah asyik bermain di sungai, kami menuju sebuah lokasi yang berada di ujung Ponorogo, arah ke Wonogiri. Katanya, tempat tersebut seru juga untuk berfoto ria. Tempat tersebut adalah jembatan gantung. Dan ternyata benar. Kami menemukan pemandangan yang sangat indah ketika kami sampai di lokasi. Tapi yang disayangkan adalah banyak kendaraan yang mengganggu refleksi alam kami melintasi jembatan gantung tersebut--atau mungkin kami yang mengganggu jalannya mereka.hahaha Kendaraan tersebut semuanya beroda dua dan kebanyakan mengangkut hasil tani.



Ada satu yang unik. Beberapa anak sekitar 12 tahun bermain di jembatan tersebut. Salah satu dari mereka menaiki pegangan jembatan, dan BYUR! anak itu berenang di sungai. Biasa aja ya? Mungkin bagi kami yang tinggal di kota itu merupakan fenomena luar biasa. hehehee

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri  menikmati Es Degan di dekat Bendungan Sumorobangun. Nikmatnyaaaa~~



Setelah itu kami pulang ke persinggahan kami. Sholat maghrib dan makan malam. Setelah itu kami berjalan-jalan di alun-alun Ponorogo dan menaiki delman :D yaa standar seperti orang-orang menemukan delman biasanya. Tapi yang membuat seru adalah kebersamaan orang-orang di dalamnya. Oh iya sebelum kami bermain di alun-alun, kami membeli Sate Ponorogo Pak Tukri untuk dimakan dirumah.


Di rumah, kami makan malam (lagi) dengan lauk Sate Ponorogo. Perbedaan yang paling mencolok dengan sate ayam biasanya adalah cara memotongnya. Sate Ponorogo dipotong dengan menyayat tipis panjang. Rasanya, cita rasa Presiden !! Iya, soalnya Sate Ayam Ponorogo Pak Tukri ini yang paling sering dikunjungi Presiden SBY dulu ketika ia masih menjabat.

Kami tidur pukul 23.00 dan kembali terjaga pukul 04.00. Paginya, setelah solat subuh, mandi dan persiapan lainnya, aku berjalan-jalan berkelililng di sekitar rumah sembari menunggu teman-teman lain bersiap. Hm, sejuknya udara pagi Ponorogo.

Kami berangkat menuju Pacitan sekitar pukul 07.00 dengan menggunakan mobil. Awalnya kupikir perjalanan menuju Pacitan seperti perjalanan lintas kota biasanya. Ternyata jalanannya penuh dengan tikungan, tanjakan, dan turunan. Jujur aku takut. Tapi semuanya itu nikmat hahaha


Seberapapun jauh dan dalam kamu mencari tempat persembunyian, seberapapun indah tempat persembunyian tersebut, ada kalanya kamu harus keluar dan kembali menghirup udara bebas.


Objek wisata pertama yang kami kunjungi adalah Goa Gong. Ya, seperti yang kita semua tahu, Pacitan adalah Kota 1001 Goa. Jadi sangat disayangkan sekali jika tidak menyempatkan diri berkunjung ke Goa di Pacitan. Apalagi Goa Gong adalah Goa yang paling terkenal. Kabarnya, ada bagian dari goa ini yang jika dipukul, suaranya menyerupai gong. Pasalnya Goa Gong merupakan Goa terindah Se-Asia Tenggara.




Dan benar sekali. Goanya baguuuuuuuussss buanget. Sayangnya suasananya sangat ramai karena memang waktunya liburan natal. Goanya juga lagi basah, mungkin karena habis hujan semalam.


Jika kamu hanya mengharap keindahan primadona, kamu harus sabar untuk mendapatkannya. Tapi apakah kamu juga sadar, bahwa keindahan tak berarti jika tak dibarengi dengan kenyamanan. Jangan terlalu berharap rupa jika tak memiliki rasa, meskipun itu sudah di depan mata.


Setelah puas bermain di Goa Gong, kami menuju Pantai Klayar yang letaknya hanya belasan meter dari Goa Gong. Kabarnya, Pantai Klayar ini buaguuuuuuuuussss buangeeeet. Hm, makanya kami penasaran.

Jalan menuju Klayar awalnya sih sudah beraspal, tapi kok makin kesana makin hilang aspanya--atau memang belum diaspal, dan makin sempit. Dan di jalan yang sempit dan tidak beraspal itu kami terjebak macet. Huft. Orang-orang yang berlawanan arah dengan kami sudah banyak  yang menginstruksikan untuk putar balik saja, karena katanya sudah tidak ada lagi parkir untuk mobil di sana. Akhirnya kami putuskan untuk putar balik saja, padahal Pantai Klayar sudah tidak jauh lagi. Tapi ya daripada nggak puas di sana, rasa kecewa itu dihilangkan saja.



Waktu berbalik arah, kami diarahkan untuk melewati jalan yang tidak kami lewati tadi. Jalannya menanjak, sempit, dan tanah. Yang menjadi poinnya adalah ada mobil di depan yang mengalami insiden, jadi sempat terjadi kemacetan di jalanan menanjak itu. Huaaa sudah takut kami, tapi untung tidak terjadi apa-apa. Hanya macet kecil selama kurang lebih satu jam.


Baiknya pergi jauh saja, mencara ketenangan. Mungkin memang tak seindah Sang Primadona, yang penting tidak kalah mempesona.


Kami sengaja tidak menuju Pantai yang dekat dengan Klayar, karena bayangannya adalah sama-sama ramai. Akhirnya kami menuju pantai di ujung timur Pacitan, Pantai Soge.

Pantainya masih sepi, ombaknya besar, tapi ada bagian pertemuan air laut dan air sungai, dan itulah tempat aman kami. Perjalanan menuju Pantai Soge sekitar 30 menit dari pusat kota Pacitan.



Puas bangeeeet main- main di Pantai Soge dan penuh dengan foto-foto seru!   



Bonus Foto:









Sabtu, 20 Desember 2014

Bolehkah (Saya) Menjadi Seorang Apatis?

Ada yang belum tau apa itu Apatis?

Apatis adalah sebuah kata yang menggambarkan diri LEBIH daripada sekedar Egois. Apatis itu nggak peduli lingkungan, nggak peduli kata orang lain, nggak peduli apa kata dunia. Ini merupakan akibat dari adanya tunalaras, atau tidak pernah mengenal hubungan kasih sayang.

Saya pernah membayangkan diri saya bebas, dan memiliki aturan milik saya sendiri. Betapa luar biasanya hidup jika hidup saya seperti itu. Bertapak di atas angin dan menjadikan hidup lebih hidup.

Bahagia?

Kurasa setiap manusia memiliki standar kebahagiaannya tersendiri. Tapi dengan melakukan kegiatan atas dasar kemauan dan hati diri sendiri adalah sebuah kebahagiaan. Tanpa intervensi orang lain, tidak ada sedikitpun.

Bahagia?

Semua itu tergantung penyikapan. Kadang menjadi apatis beberapa saat membuat kita berpikir dan merenung. Menyiapkan diri menjadi lebih baik. Menyadarkan diri bahwa hidup memang tak selamanya sendiri. Kata orang kan kita makhluk sosial, nggak bisa hidup tanpa orang lain.

Jadi, bolehkah aku Menjadi Seorang Apatis?

Jumat, 14 November 2014

Hari Tata Ruang 2014

#latepost

Pukul 5 pagi biasanya aku masih terbutakan oleh pagi. Namun tidak untuk hari ini. Aku dengan bersemangat bergegas menuju sebuah tempat di mana aku dan kawan-kawan lain berkumpul, kawan-kawan yang peduli dengan nasib kota-kota di seluruh dunia, terutama di Indonesia (baca: keluarga Himpunan Mahasiswa Planologi ITS). Mata yang masih terkantuk-kantuk kucoba lawan dengan niat tulusku.

Ada apa dengan hari ini?

Hari ini kami akan memperingati hari besar yang jatuh di hari kemarin.

Ada apa dengan hari kemarin?

8 November 2014
Hari Tata Ruang Nasional.

Untuk apa diperingati?

Sesungguhnya, tata ruang tidak hanya dilakukan oleh pihak eksekutif saja, namun keseluruhan rakyat Indonesia juga dapat berpartisipasi.

Bagaimana caranya?

Dengan peduli dan menjaga lingkungan di sekitarnya. Dengan mendukung program pemerintah yang memiliki tujuan baik mempercantik dan memperindah kota.

Belum tau yaaaa?

Hm, makanya kami--aku dan teman-teman--melakukan sebuah gerakan Aksi di Hari Tata Ruang, yaitu sebuah gerakan yang memperkenalkan Tata Ruang dan Hari Tata Ruang kepada orang banyak.


Pawai Kami
Setelah aku dan teman-teman berkumpul di sebuah lokasi, kami bersama-sama meuju lokasi untuk melakukan aksi, yakni di Taman Bungkul Surabaya yang pada pagi itu sedang ada kegiatan Car Free Day. Tidak hanya aku dan teman-teman, anak-anak jalanan yang berada di bawah naungan Save Street Child Surabaya--yang selanjutnya disebut SSCS--pun juga turut memeriahkan. Ini sebagai rangsangan kepada masyarakat bahwa adik-adik yang notabene masih duduk di bangku SD saja sudah mau peduli memikirkan nasib kotanya.

Penggalangan Tanda Tangan
Acara dimulai dengan melakukan pawai dengan menyanyikan yel-yel serta membawa spanduk dan banner yang memperkenalkan Hari Tata Ruang. Selain itu juga ada peraga yang membawa hasil karya dari teman-teman Instameet, yakni karya fotografi sudut Kota Surabaya, juga ada pameran gambar kota impian dari adik-adik SSCS. Acara dilanjutkan dengan pemberian informasi kepada  penikmat Car Free Day hari itu dan menggalang tanda tangan sebagai bukti bahwa orang tersebut telah mengetahui dan mendukung jalannya Tata Ruang di Indonesia, khususnya Kota Surabaya.

Di tengah penggalangan tanda tangan tiba-tiba ada komunitas anak-anak yang menawarkan dirinya untuk mengiringi yel-yel kami dengan barang bekas dan egrang. Lagu dinyanyikan dengan semangat dan meriah. Salah satu dari mereka juga membacakan puisinya yang berjudul "Kota Impian".

Pengiring dengan Barang Bekas dan Egrang
Dari penggalangan tanda tangan dan pengumpulan aspirasi masyarakat, rata-rata penduduk Kota Surabaya mengharapkan Kota Surabaya ke depannya memiliki jaringan dan sistem transportasi yang baik, sehingga tidak lagi muncul fenomena macet di Surabaya. Harapan lainnya adalah Kota Surabaya memiliki vegetasi yang lebih banyak lagi sehingga tercipta kesan asri bagi Kota Surabaya. Harapan terakhir adalah semoga Kota Surabaya bisa menjadi kota terbaik di dunia Internasional!
Foto Bersama
Acara ditutup dengan pembagian souvenir kepada adik-adik SSCS dan sarapan pagi. Tak lupa kami mengabadikan momen seru ini dengan kamera-kamera pribadi kami. Kami pulang dengan rasa bangga dan puas karena bisa memberikan manfaat kepada orang banyak tentang pentingnya penataan ruang.

Semoga apa yang menjadi harapan orang-orang banyak di kota ini terwujud dengan adanya Penataan Ruang yang baik. AAMIIN!
 

Sabtu, 01 November 2014

Lingkungan Hidup (Kerusakan Alam)

Kau yang
Bermandikan Harta
Berkawankan kemewahan
dari mana kau dapatkan semuanya?

Dari pohon yang kau tebang?
Dari hewan yang kau bunuh?
Dari tanah yang kau tandus?
Dari air yang kian kering?
Dari sungai yang kian kerontang?
Dari hutan yang engkau jadikan kebakaran?
Dari asap tebal pohon yang dibakar?

Apakah kau tak ingat?
Masih ada anak cucu kita

yang mengharap udara segar
Mengharap kesejukan alam
Mengharap keindahan dunia
Mengharap hijaunya daun
Mengharap rindangnya pepohonan

Tidakkah kau sadar?
Ada banyak nyawa yang kau ambil
Ada banyak harapan yang kau renggut

Wahai para perusak alam!

Ingatlah pada hukum alam

Kita butuh alam yang indah
Kita butuh alam yang sejuk
Kita hidup dalam alam
dan kita bergantung pada alam

Jagalah alam,
Seperti kau menjaga rumahmu sendiri

Karena alam kita
adalah
Alam anak cucu kita

by. Musa, 12 tahun. Salah satu anggota komunitas Save Street Child Surabaya di acara HMPL Mengajar part II.

Kamis, 04 September 2014

Gabut!

Gabut.

Gabut telah merubah artian namanya menjadi sesuatu yang lain. Mirip, tapi tidak serupa.

Gabut merupakan singkatan dari Gaji Buta. Setau saya, dulu namanya itu "Magabut" atau Makan Gaji Buta. Karena kepanjangan jadi dipendekin jadi gabut.

Gabut disebutkan ketika ada orang yang seenaknya sendiri nggak melakukan apa-apa tapi mendapatkan kompensasi yang besar. Tidak adil!

Dulu waktu SMA gabut ditujukan kepada guru-guru yang jarang masuk.

Kalau lagi teamwork, gabut digunakan ketika ada orang yang santai-santai tapi dapat apresiasi kerjanya. Huft menyebalkan.

Lama-kelamaan, gabut tersebut menjadi kata yang digunakan untuk orang yang tidak melakukan apa-apa, bahkan tidak mendapatkan apa-apa dari kerjaannya itu.

Contohnya ada di kalimat ini: Aku gabut hari ini, nggak ngapa-ngapain di kosan.

Padahal dari ke-nggak-ngapa-ngapain-nya ini dia nggak dapat apa-apa. Kenapa dibilang gaji buta? Gajinya aja nggak dapat.

Sekian.

Sekian pemikiran saya yang sedikit rumit.

Senin, 01 September 2014

Maka Nikmat Tuhanmu Manakah yang Engkau Dustakan?

Aku mau cerita.

Dua hari yang lalu aku pergi ke sebuah supermarket di suatu kawasan di Surabaya. Niatku mau membeli minuman dingin. Berbeloklah aku ke arah kiri, tempat biasa kulkas yang berisi minuman itu berada. Aku kaget waktu aku sampai di tikungan gang kulkas.

Aku melihat seorang laki-laki sedang berlutut sambil bercanda dengan teman di sebelahnya yang berdiri. Aku mikir, anak ini kurang kerjaan banget ndelosor di supermarket macam ini. Setelah temannya mengambil sebotol minuman, laki-laki itu sedikit menggerakkan badannya sampai terlihat tangannya.

Terkesima aku melihat laki-laki itu. Ternyata kakinya memang tidak bisa menopang badannya. Tangannya pun terlihat tidak tumbuh sempurna. Tapi dia masih tertawa dengan temannya.

Dan satu hal, wajahnya terlihat oriental. Di mana biasanya di Surabaya (nggak tau kalau di tempat lain) orang-orang berwajah seperti itu terlihat sempurna dengan gaya dan bajunya yang modis. Inilah bukti bahwa Allah itu tidak pilih kasih, guys!

Hm, ada cerita serupa.

Besoknya, setelah rapat dan persiapan untuk hari esoknya lagi, aku dan temanku membeli makan malam. Aku belum pernah ke tempat ini sebelumnya (padahal dekat sama kosanku). Maklumlah anak kos, jadi makan penyetan aja, yang murah.

Setelah pesan ke Bapak yang menyambut kami, dia langsung melayani kami dengan mengambil lauk pilihan kami. Awalnya biasa aja sih aku ngelihatnya, eh setelah diperhatikan kok dia selalu menggunakan tangan kirinya.

Ternyata tangan kanannya tidak sempurna. Aku nggak tau apa penyebabnya, intinya tangan kanannya tidak bisa digunakan kecuali untuk menjepit uang saat penghitungan.

Dua hari berturut-turut. Aku kagum aja sama orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik tapi masih semangat menjalani kehidupannya. Menuai senyum dan tawa. Berpeluh demi mempertahankan nyawa.

Ah, apakah kita nggak malu dengan mereka? yang tinggal ongkang-ongkang kaki terima uang dari orang tua? yang tinggal berleha-leha lalu mendapatkannya seketika? yang masih berkeluh kesah ketika tertimpa masalah yang nggak seberapa?

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Senin, 07 Juli 2014

Ramadhan yang Dirindukan

Sudah masuk hari ke-10 Bulan Ramadhan.
Dan apakah kerinduan kita sudah terbayar? Kurasa belum.

Satu pertanyaan, kenapa sih kita rindu Ramadhan? Apa yang kita rindukan?

Hm, mungkin suasananya yang berbeda dari bulan-bulan yang lainnya. Rutinitas yang berbeda dari  hari-hari biasanya.

Bangun-Makan Sahur-Sholat Subuh-Baca AlQur’an-Tidur lagi-Baca AlQUr’an lagi-Buka Puasa-Sholat Tarawih

Suasana yang selalu ramai dan dimanfaatkan untuk berkumpul. Entah bersama keluarga, atau teman terdekat.  Entah sebentar atau lama. Entah pagi, siang, atau malam hari.

Ajakan buka bersama selalu berbondong-bondong datang. Dalam satu minggu bisa jadi terdapat lebih dari tujuh ajakan untuk berbuka puasa bersama.

Datang di awal waktu, setelah Ashar biasanya. Dan berakhir malam hari, bahkan melewati jam sholat Isya dan sholat tarawih dengan alasan, Kapan Lagi Kumpul Bareng? Pulang kemalaman dan ketiduran sehingga melewati waktu Subuh. Janji kepada diri sendiri One Day One Juz Pun terabaikan.


Apakah ini Ramadhan yang kita rindukan?

Kamis, 03 Juli 2014

Ngabuburit

Sejujurnya, saya bingung mau menulis apa pada postingan kali ini.

Saya nge-blog ini dalam rangka ngabuburit.

Ini adalah akibat dari nggak adanya acara TV yang seru.

Nggak adanya temen yang ngajak main.

Serta nggak adanya pacar yang ngajak jalan.

#eh #puasaloh

Sekian.

Senin, 16 Juni 2014

PERSEGI

Wahai Persegi...
Pedulikah aku dengan rupamu yang mulai reyot direnggut usia
Bentukmu yang tak lagi selaras dengan nama
Warnamu yang terus memudar
Takkan meruntuhkan pesona yang masih gemilang
Tidak mungkin menutupi auramu yang nyaman

Wahai persegi...
Aku rindu mengetuk persegi panjangmu yang terbuat dari kayu
Yang berdiri kokoh di depanmu seakan ingin selalu menjagamu
Aku rindu menapaki  barisan persegi-persegi kecilmu
Yang sejuk dan menjalankan aliran istimewa

Wahai Persegi...
Aku mungkin takkan lagi melakukan jejak demi jejak di dalammu setiap saat
Aku mungkin takkan lagi membuka penjaga persegi panjangmu setiap hari
Aku pun kini sedang bersama persegi lain yang lebih rupawan.

Tapi persegi,
Aku selalu ingin pulang
Aku selalu ingin menciptakan tawa di dalammu,
Bersama mereka.

 

INAS YAUMI AISHARYA 14 JUNI 2-14 21.40